Sabtu, 26 April 2014

JAWABAN SI PENDUSTA “WAHABI” TENTANG TASAWWUF,YANG MENCATUT PERKATAAN IMAM SYAFI’I

 “Al-Imam syafi’i berkata, seandainya seorang menjadi sufidi awal siang hari, maka sebelum dzuhur akan engkau dapati dia termasuk orang yang pandir (bodoh )”,lihat Manaqib Asy-Syafi’i juz 2 halaman 207 oleh Al-Baihaqi. Beliau juga berkata,“Sayatinggalkan kota Bagdad (padanya) sesuatu yang dibuat oleh orang-orang zindiq mereka menamainya dengan taghbiruntuk melalaikan manusia dari Al-Qur’an 283, Talbis Iblis halaman 230. Tahgbir  adalah dzikir atau lantunan syair, “zuhud dengan suara merdu, ini adalah kebiasaan orang sufi“. Maka Imam Syafi’i dengan kesempurnaan ilmu dan imannya mengetahui bahwa semua itu dapat memalingkan manusia dari al-Qur’an. (al-Istiqomah halaman 127 dan al-Fahrasat halaman 4450) Oleh Ibnu Nadzim yang bermadzhab Imam Syafi’i mencela ajaran tersebut.

BANTAHAN

1-    Khabar pertama di dalam sanadnya oleh para ulama’ masih diperselisihkan, lantaran, artinya tidak tsiqoh. Dalam periwayatan lainnya menggunakan kalimat “Laula“ (seandainya tidak). Dalam kitab “Hilyatul Aula” disebutkan sebagai berikut: 
حد ثنا محمد بن الرحمن , حدثني أبوالحسن بن القتات ,ثنا محمد بن ابي يحي , ثنا يونس بن عبد الأ على , قال , سمعت الشا فعى .يقول , لولا أن رجلا عا قلا تصوف , لم يأت الظهر حتى يصيرأ حمق .      

“Seandainya orang yang berakal tidak bertasawwuf, maka belum sampai dzuhur, ia akan menjadi dungu“ Sanadini muttasil dari pengarang Hilyatul Aulia hingga sampai pada padaImam Syafi’i, dan lebih kuat dan menggunakan tsiqoh tahdits, sama’ didengar langsung secara estafet.

2-    Wahabi menuqil ucapan Imam Syafi’i tersebut, dengan bodoh makna yang sebenarnya, dan berkali-kali celaan itu terhadap ajaran tasawwuf, tanpa didahului ilmu fiqih, maka tidaklah datang waktu dzuhur maksudnya waktu sholat, kecuali dia dalam kedaan dungu yakni dalam kedaan bodoh, dia tidak mengerti bagaimana beribadah dengan Tuhannya. Maka seperti sesuai dengan kalam para ulama’ lainnya, Imam Sirri As-Saqothi yang berkata pada Imam Junaid dan disebutkan oleh Al-HafidzAbu Tholib Al-Makki dalam kitabnya Qutul Qulub sebagai berikut : Imam Sirri as-Saqothi al-Makki dalam kitabnya pada Imam Junaidi “Jika kau berpisah dariku siapakah yang kau duduk bersamanya? Imam Junaid menjawab “al-Haris al-Muhasibi“ Imam Sirri berkata “benar ambillah ilmu dan adzabnya tinggalkan kalamlembutnya“  Imam Junaid berkata ketika aku hendakpergi aku mendengar beliau berkata :
جعلك الله صا حب حديث صو فيأ صا ب حديث                              
Semoga Allah menjadikanmu ahli hadits yang bertasawwuf dan tidak menjadikanmu ahli tasawwuf yang pandai hadits.

3-    Wahabi menuqil perkataan Imam Syafi’i dari Imam Baihaqi dalam kitabnya manaqib Asy-Syafi’i, seandainya Wahabi mau jujur, maka seharusnya juga menampilkan pendapat Imam Syafi’i tersebut, dan tidak membuangnya. Namun  karena tujuan untukmengelabui umat Islam dan Wahabi tidak peduli pada kejujuran dan amanat.

BERIKUT KOMENTAR BELIAU SETELAH MENAMPILKAN PENDAPAT IMAM SYAFI’I :

قلت , وانما اراد به مندخل فى الصفية واكتفى با لاسم عن المعنى , وبالرسم عن الحقيقة , وقعدعن الكسب , وألقى مؤ نته على المسلمين , ولم يبال بهم ,ولم يرع حقو قهم ,ولم يشتغل بعلم ولا عبا دة , كماوصفهم فى موضع أخر .

“Aku katakan (menjelaskan maksud perkataan Imam Syafi’i tersebut)   Sesungguhnya yang Imam Syafi’i maksud, ialah orang yang masuk dalam sufi namun hanya cukup dengan nama, bukan dengan maksud pengamalan, merasacukup dengan simbol, dan melupakan hakekat sufi, malas bekerja, membebankan nafkah pada kaum muslimin. Tetapi tidak peduli dengan mereka, tidak menjaga hak-hak diantara mereka, (maksudnya tidak memenuhi kewajiban yang ditetapkan syariat,tidak menyibukkan diri dengan ilmu, dan ibadah, sebagaimana beliau mensifati hal ini, di tempat yang lainnya. (Al-Manaqib Al-Syafi’i 2 Al-Imam Baihaqi 2/207). Inilah yang dimaksud Imam Syafi’i, maka jelaslah bahwa beliau tidak mencela ajaran tasawwuf dan penganutnya. Dan cukup kiranya pendapat Imam Syafi’i berikut ini,untuk membungkam orang-orang Wahabi:

ففيها وصو فيأ فكن ليس واحد فا ني وحق الله اياك أنصح فد لك قاس لم يذق قلبه تقى وهذا جهول وكيف ذولجهل يصلح .

Jadilah kamu seorang ahli fiqih yang bertasawwuf, jangan jadi salah satunya, sungguh dengan haq Allah aku menasehatimu, jika kamu ahli fiqih saja, maka hatimu akan keras, tak akan merasakan nikmatnya taqwa. Dan jika kamu menjadi yang ke-2 saja, maka sungguh maka ia, orang teramat bodoh, maka orang bodoh tak akan menjadi baik.  (Diwan Imam Syafi’i halaman 19) Inilah pendapat Imam Syafi’i yang sangat jelas yang menganjurkan tentang “Tasawwuf “.

IMAM SYAFI’I PERNAH BERGAUL DENGAN SUFI SELAMA 10 TAHUN, DAN MURIDNYA YUNUS BIN A’LA PERNAH BERGAUL DENGAN SEORANG SUFI SELAMA 15 TAHUN, INILAH KOMENTAR SEORANG TOKOH WAHABI, DAN SEKALIGUS MURID IBNU TAIMIYAH :

قال الشا فعى , رضي الله عنه , صحبت الصو فيه فما انتفعت منهم الا بكلمتين سمعتهم يقولون الوقت سيف فان قطعته والا قطعك ونفسك ان لم تشغلها با الحق والا شغلتك با لبا طل , قلت , ابن القيم , يا لهما من كلمتين ما أ نفعها وأجمعهما واد لهما على علو همة قائلهما ويقظته ويكفى فى هذا ثناء الشا فعى على طائفة هذا قدر كلما تهم .

“Imam Syafi’i berkata: Akuberteman dengan kaum sufi dan tidaklah kau mendapat manfa’at darimereka, kecuali, dua kalimat yang aku dengar,“ waktu itu pedang, jika kamu bisa memutusnya, jika tidak maka waktu itu yang akan memutusmu. Dan nafsumu jika tidak disibukkan dengan kebenaran, maka akan disibukkandengan kebatilan “Aku katakan, (Ibnul Qoyyim) aduhai sangatlah dan mencakup dua kalimat tersebut. Dan cukuplah hal ini sebagai pujian Imam Syafi’i pada mereka. (Madarij As-Salikin, juz 3 halaman 129). Demikianlah pujian seorang ulama’ Wahabi tentang tasawwuf.


TUDUHAN “ IBNU TAIMIYAH DAN ORANG-ORANG YAHUDI “

Tampaknya semua khilafiyah yang dituduhkan kepada amaliah “Sunny“ yang dilontarkan oleh “Salafi Wahabi“ini, tak lepas dari intervensi dari orang-orang Yahudi.Terbukti Ibnu Taimiyah selalu mempersoalkan amaliah “sunny“ dan tuduhan seorang orientalis Prancis, yang bernama : Prof.Vincent Monteil, Guru Besar pada Universitas Sarbonne di Prancis, ketika memberi ceramah “Sejarah dan hakikat Sufi“ padatanggal 18 April1973 di Kiblat Center di Jakarta, juga mempersoalkan tentang tasawwuf ini. Akan tetapi telah dijawab oleh Imam Qusairi, bahwa Tasawwuf itu adalah nama dari orang-orang Sufiyah, ialah suatu golongan dari umat Islam yang menganut ajaran Tasawwuf “Almaturidiyah“.Shuf“ jama’nya “Suhufiyah“. Seorang ahli tasawwuf dinamakan “mutasawwif“ dengan jama’nya “Mutasawwifun“. (Risalalah Qusyairiyah halaman 126).

IBNU KHALDUM SEORANG UlAMA’ SUFI TERBESAR MENGATAKAN :

وكان ذالك عاما فى الصحابة والشلف , فما فشاالا قبال على الدنيا فى القرن الثاني وما بعده وجنح الناس الى مخا لطة الدنيا . اختص المقبلون على العبادة باسم الصو فية  ( ظهر الا سلا  الربع . صحيفة . اه ا )    

“Hal ini dilakukan sahabat-sahabat Nabi dan orang-orang Salaf, tetapi tetapi pada kurun 11 H. Setelah orang berebutan dunia, dan orang-orang sudah enak dalam masyarakat keduniaan, maka orang-orang yang tetap tekun beribadah sebagai sedia kala dialami “orang-orang tasawwuf“.

ILMU TASAWWUF TIDAK BERTENTANGAN DENGAN “ SUNNAH NABI “

Ilmu Tasawwuf tidak bertentangan dengan sunnah, Al-Qur’an al-Hadist, bahkan sunnah Nabi itulah sumbernya, andaikan ada orang-orang tasawwuf yang menyalahi syari’at, umpanya tidak sembahyang, tidak berpuasa, atau sembahyangJum’at tidak berpakaian, makan siang hari pada bulan puasa, maka itubukanlah orang tasawwuf, “Akan tetapi tasawwuf pura-pura“. Bekata Yazid al-Bustomi :

لونظرتم الى رجل أعطي من الكرامات حتى يرتقي فى الهواء فلا تغتروابه حتى تنظر واكيف تجدو نه عند لامر والنهي وحفظ الحدود واداء الشريعة .                                    

Kalau kamu melihat seorang yang diberi keramat, sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik padanya, kecuali ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama, dan membayar sekalian kewajiban syari,at. (Risalatul Qusairiyah halaman 14 ).

من علا مات المحب الله عز وجل متا بعته حبيب الله صلعم . فى اخلا قه وأفعا له وأوامره وسنته .     

Ciri-ciri orang yang mencintai Allah, ialah siapa yang mengikuti kekasih Allah, Nabi Muhammad Saw. dalam akhlakperbuatan dan sunnah beliau. (Risalatul Qusairiyah halaman 9 ).
Dan ketika Malaikat Jibril as. mengajarkan pokok-pokok agama tentang Islam, Iman dan Ikhsan, yang diceritakan dalam hadist Bukhori dan Muslim, yang panjang, dalam memberi komentar Imam Bukhori mengatakan, bahwa ketiga tiganya, yakni Islam,Iman dan Ikhsan, adalah agama. Hadist ini mengisyratkan yang terdapat dalam agama Islam, yaitu Islam, Iman dan “Tasawwuf“ (Hadits Bukhori juz 1 halaman 15). “Ikhsan“ adalah ajaran  “Muroqobah” yakni  “Tahalli” “Tajalli” yang ada dalam ajaran tasawwuf. Imam Nawawi pensyarah Hadits Muslim memberi keterangan atas Hadits ini, bahwa kalau sudah ada orang-orang miskin, pengembala domba yang berjalan tanpa alas kaki, sesudah itu diberikan dengan luas dunia kepadanya, dan ia bangun rumah tinggi-tinggi, maka itu suatu tanda bahwa hari qiyamat sudah dekat datangnya. (Syarah Muslim juz 1 halaman 158 )

TAUBAT DALAM AJARAN TASAWWUF.
Dalam ajaran Tasawwuf “Tobat“ menduduki tempat yang utama dan yang pertama, karena dosa adalah dinding antara kita dengan Tuhan. Orang menuju keridho’an Tuhan dan orang yang menuntut bimbingan Tuhan, harus ia tobat terlebih dahulu, kepada Allah atas segala dosa-dosa yang telah di lakujkan. Dan berkata Imam Qusairi : 
التو بة أول منزل من منا زل السا لكين واول مقام من مقام الطالبين (  الرسالة القسير يه )          

Taubat adalah permulaan si “Salik” (Orang yang menuju keridha’an Allah) dan makam yag pertama si “Thalib” (yang mencari keridhaan Allah) (Risalah Qusairiyah halaman 45).

TAUBAT SEBAGAIMANA YANG DI SAMPAIKAN “AL-IMAM AL-GHOZALI “SEBAGAI "RAJA TASAWUF".    

التوبة متاح سعادة المر يد ين .           .                            

“Taubat itu kunci kebahagiaan bagi murid-murid (orang belajar ilmu dan amal Tasawwuf) oleh karena persoalan tobat ini sangat penting, maka Imam
al-Ghozali yang boleh digelari “Raja Tasawwuf” telah mengupas masalah ini dalam kitab “Ihya’ Ulumuddin” sebanyak 58 halaman penuh, yaitu dari nomor 2 s/d59. (Ihya juz 4 halaman 2-59 )

SEBAGAIMANA YANG DISAMPAIKAN SEORANG ULAMA’ BESAR SUFI “WANITA” YAITU “ROBIATUL ADAWIYAH” WAFAT 235 H. YANG BERBUNYI :

استغفا رنا يحتاج الى استغفار ( موعظة المؤمنين )                                                           

Istigfar kita (tobat kita) membutuhkan dimintakan tobatlagi (mau Izatul Mu’minin halaman 341) kadang ada orang yang selalu mendiskriditkan, “Bagaimana orang ini, Isitighfar kok dianggap dosa yang harus dimintakan tobat lagi.? Di dalam ajaran tasawwuf istigfar yang diucapkan dengan lisan tapi tidak dibarengi dengan penyesalan dan “Uzlah” menjauhkan diri tempat-tempat maksiat dan menerbitkan air mata, adalah “Taubat yang bohong menurut ajaran tasawwuf“

SEBAGAMANA YANG DISAMPAIKAN ULAMA’ SUFI TERBESAR DZIN NUKMAN :

الاستغفار من غير اقلاع تو بة الكاذبين ( الرسا لة القسر يه )        

Taubatnya dengan tidak mencabut akar-akarnya maksiat, adalah taubat kaum pembohong, (Risalatui Qusairiyah halaman 4 ).

ADAPUN DALIL TASAWWUF BAHWA LALAI MENGINGAT ALLAH ADALA SUATU DOSA :

ولا تطع من أغفلنا قلبه عن ذكري واتبع هواه وكان أمره فرطا ( الكهف )                

Dan janganlah engkau turut orang yang KAMI lalaikan, hatinya dari mengingat kami dan di ikutinya hawa nafsunya, dan pekerjaannya melewati batas (al-Kahfi 28)
                                                                

Wallahu A'lam Bisshawab

Minggu, 20 April 2014

YASINAN, MEMBACA SURAH YASIN KOK DILARANG...



Ada orang-orang nyeleneh yang bilang, tidak perlu repot- repot mengadakan kenduri, yasinan, dan perbuatan lainnya yang tidak ada tuntunannya dari Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam. Bahkan apabila dikaitkan dengan waktu malam Jum’at, maka ada larangan khusus dari Rosululloh shollalohu’alaihi wa sallam yakni seperti yang termaktub dalam sabdanya, “Dari Abu Hurairah, dari Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam: Janganlah kamu khususkan malam Jum’at untuk melakukan ibadah yang tidak dilakukan pada malam-malam yang lain.” (HR. Muslim). Terjemah hadist tersebut adalah rujukan yang di gunakan untuk melarang amalan yasinan khusus malam Jum'at oleh orang-orang tertentu.

Setelah di lakukan penelitian, ternyata ada penyelewengan matan redaksi hadis, karena tidak ada terjemah matan hadist seperti di atas. Yang ada adalah hadis dengan kandungan matan berikut: Hadist Riwayat Imam Muslim yang artinya: "jangan kamu khususkan pada malam jum'at itu dengan (ibadah) shalat malam yang tidak (di kerjakan) pada malam lainnya, dan jangan kamu khususkan pada hari jum'at itu dengan (ibadah) puasa yang tidak (dikerjakan) pada hari lain nya, kecuali jika bertepatan puasa yang telah di kerjakannya "Sepertinya, hadist itu ada kesamaan/ kemiripan, padahal itu sangat beda jauh kandungan matannya. Entah situs-situs ataupun blog-blog yang menuliskannya itu memang sengaja menyelewengkan terjemah hadist, atau memang ada latar belakang lain, Sehingga natijah/kesimpulannya semua macam ibadah, itu haram jika di khususkan hari jum'at, karena merupakan dalil a'am.

Sedangkan, terjemah hadist kedua yang benar. Kandungan hukum matannya itu ternyata, yang dilarang hanya sholat lail khusus malam jum'at, dan puasa khusus hari jum'at, dimana merupakan suatu dalil khos. Jadi perlu di ketahui, tidak ada larangan ibadah khusus hari malam jumat kecuali sholat lail khusus malam jumat dan puasa khusus hari jumat.

Oleh karena itu, apabila kita berpuasa sunnah di hari jumat, dianjurkan untuk menambahinya di hari berikutnya atau pada hari sebelumnya. Sedangkan yasinan, barzanji, diba', maulid, simtudh duhror, maupun pengajian yang dilakukan khusus di malam jum'at tidak ada larangannya karena bunyi hadistnya adalah semacam itu. Maka menambah larangan yang tidak dilarang merupakan suatu perbuatan tercela yang menghalangi orang untuk mencari ilmu dan beribadah kepada Allah SWT.

Dari hal ini kita mendapat pelajaran banyak yang memanipulasi matan hadist. Jadi salah terjemah sedikit saja, sudah merubah kandungan matan yang seharusnya menjadi dalil khos diselewengkan menjadi dalil a'am. Ini merupakan manipulasi terjemahan hadis di depan umum yang dibuat-buat untuk membid'ahkan dan menghalangi orang yang ingin mencari ilmu dan melakukan kegiatan mulia.

Bagaimana jika surat Yasiin dibacakan untuk orang yang telah wafat. Diantara dalil membaca Surat Yasin untuk orang yang meninggal, adalah hadits Nabi SAW berikut ini:

“Bacalah yasin kepada orang-orang mati diantara kalian” {HR. Abu Dawud jilid 8/385}, hadist ini disahkan oleh Ibnu Hibban. Pendapat Abu Hatim dan sebagian ulama’ lainnya “sunnah dibacakan Yasin, ketika menjelang kematian (sakarotul maut) karena Surat Yasin menceritakan kiamat, tauhid dan kisah-kisah umat terdahulu”. Namun menurut Ibn Rif’ah, dianjurkan membacanya setelah meninggal. Oleh karena itu lebih utama menggabung keduanya yaitu membacanya di waktu sakarotul maut dan setelah meninggal (Faidul Qodir juz 2 hal. 86).

Sebagian pendapat hadist ini do’if (bukan palsu), tetapi tetap bisa diamalkan karena didukung oleh hadist lain yang kuat tentang sampainya pahala bacaan kepada mayyit.
Wasiat Ibn Umar dalam kitab Syarh Aqidah
Thahawiyah hal : 458 “diriwayatkan Ibn Umar RA berwasiat agar dibacakan awal surat Al-Baqarah dan akhirnya di atas kuburnya seusai pemakaman. Demikian juga dinukil dari sebagian shahabat Muhajirin adanya pembacaan surat Al-Baqarah”. Hadist ini menjadi dasar pendapat Muhammad bin Hasan dan Ahmad bin Hambal padahal Imam Ahmad sebelumnya pernah mengingkari sampainya pahala dari orang yang hidup kepada orang yang sudah mati. Namun setelah beliau mendengar dari orang-orang yang terpercaya tentang wasiat ibnu Umar, Beliaupun mencabut pengingkarannya (Mukhtasar Tazkirah Qurtubi hal. 25).

Disebutkan imam Ahmad bin Hambal berkata, ”sampai kepada mayyit [pahala] setiap kebaikan karena adanya nash–nash yang menerangkannya dan juga kaum muslimin berkumpul di setiap negeri untuk membaca alquran dan menghadiahkan (pahalanya) kepada mereka yang sudah meninggal. Hal ini terjadi tanpa ada yang mengingkari, maka jadilah ijma’ (Yas’aluunaka fid din wal hayat oleh Dr. Ahmad Syarbasi jilid III/423)

Hadis dalam Sunan Baihaqi dengan isnad hasan, mengatakan “sesungguhnya Ibnu Umar menganjurkan untuk dibacakan awal surat al-Baqoroh dan akhirnya diatas kuburan seusai pemakaman” Hadist ini mirip dengan wasiat Ibn Umar, bahkan di sini dinyatakan dianjurkan. Hadist riwayat Imam Daruquthni juga menyebutkan, “barang siapa masuk ke pekuburan lalu membaca surat Al-Ikhlas 11 kali kemudian menghadiahkan pahalanya kepada para mayit (dikuburan itu) maka ia diberi pahala sebanyak orang yang mati di tempat itu “Kemudian, Hadist marfu’ Riwayat Hafiz as-Salafijuga menyebutkan, "Barang siapa melewati pekuburan lalu membaca surat Al-Ikhlas 11 kali kemudian menghadiahkan pahalanya kepada para mayit (dikuburan itu) maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu “ (mukhtasar Al-Qurtubi hal. 26)

Syaikh Muhammad Makhluf, (mantan mufti mesir) berkata, “Tokoh-tokoh madzhab Hanafi berpendapat setiap orang melakukan ibadah baik sedekah atau bacaan al Qur’an atau lainnya dari macam-macam kebaikan, dapat dihadiahkan pahalanya kepada orang lain dan pahala itu akan sampai kepadanya”. Syaik Ali Ma’sum berkata, “dalam madzhab Maliki tidak ada khilaf akan sampainya pahala sedekah kepada mayyit. Namun ada khilaf pada bacaan al Qur’an untuk mayyit.

Menurut dasar Madzhab hukumnya makruh. Para ulama’-ulama’ muta’akhirin berpendapat boleh melakukannya dan menjadi dasar untuk diamalkan. Dengan demikian maka pahala bacaan tersebut sampai kepada mayyit. Ibn Farhun menukil bahwa pendapat akhir inilah yang rojih dan kuat” [Hujjatu ahlis sunnah Wal jama’ah hal.15].

Dalam kitab Al-Majmu’ jilid 15/522 : “berkata Ibn Nahwi dalam syarah minhaj : dalam madzhb Syafi’i menurut qaul yang mashur, pahala bacaan tidak sampai, tapi menurut qaul yang muhtar, sampai apabila di mohonkan kepada Allah agar disampaikan bacaan tersebut”

Imam Ibn Qoyyim al- Jauziyyah berkata “yang paling utama dihadiahkan kepada mayit adalah sedekah, istighfar, do’a untuknya dan haji atas namanya. Adapun bacaan al-Qur’an serta menghadiahkan pahalanya kepada mayit dengan cara sukarela tanpa imbalan, akan sampai kepadanya sebagaimana pahala puasa dan haji sampai kepadanya.” [Yas’alunaka fid din wal-hayat jilid I/442]

Ibnu Taymiyyah pernah ditanya tentang bacaan Al-Qur’an untuk mayyit juga tasbih, tahlil, dan takbir jika dihadiahkan kepada mayyit, apakah sampai pahalanya atau tidak? Beliau menjawab sebagaimana tersebut dalam kitab beliau Majmu’ Fatawa jilid 24 hal. 324, “sampai kepada mayyit bacaan Al-Qur’an dari keluarganya demikian tasbih, takbir serta seluruh dzikir mereka apabila mereka menghadiahkan pahalanya kepada mayyit akan sampai pula kepadanya”.

Sabtu, 01 Februari 2014

ALLAH SWT. MEMPUNYAI MUKA, TANGAN, MATA, RUSUK, DUDUK BRSELA, TURUN DARI LANGIT, MEMPUNYAI JARI, BISA DITUNJUK JARI KE LANGIT “MENURUT ULAMA' WAHABI“

Sebagaimana yang kita maklumi, bahwa Ulama Wahabi seperti Ibnu Taimiyah, sering mengatakan dengan sombongnya akan mengembalikan aqidah  para ulama' seperti madzhab yang empat, untuk kembali kepada kitab Allah, dan sunnah Rasul, ia akan memerangi khurafat dan bid’ah dan pemurnian tauhid, yang dikerjakan kaum muslimin yang taqlid kepada Imam yang empat, dia sendiri tidak sadar pada mulanya nenek dan bapaknya pernah bermadzhab Hambali. Diantara fatwa Ibnu taimiyah yang menyimpang :


وَكنت اذذاك بدي مشق فحضرته يوم الجمعة وهو يعظ الناس على منبر الجا مع ويذكرهم فكان من جملة كلامه أن قال : ان الله ينزل الى سماءالدنيا كنزولى هذا ونزل درجة من درج المنبر فعا رضه فقيه مالكى يعرف با بن الزهراءوأنكر ما تكلم به الخ , رحلة ابن بطوطة . كتاب طبعة الأ زهرية .                                

Saya ketika itu berada di Damsyiq. Saya hadir di masjid mendengar dia memberi pelajaran di hadapan umum di mimbar masjid. Banyak pelajaran diucapkan. Diantara perkataannya : “Tuhan Allah turun ke langit dunia serupa turunnya dengan turunnya saya ini“. Lalu ia turun satu tingkat di jenjang mimbar. Pada ketika itu seorang ulama' ahli fiqih madzhab Maliki bernama Anus Zahro’ membantah dia dan melawan ucapan Ibnu Taimiyah (Lihat Rahlah Ibnu Bathuthoh juz 1 halaman 57 buku cetakan Azhariyah, Kairo 1928 M).

Mendengar fatwanya kesana kemari yang penuh kesesatan itu akhirnya oleh sang Raja Mesir namanya Nasser, supaya dihukum, karena fatwanya yang menyimpang, setelah ditahan bertahun tahun ia meninggal dipenjara di benteng Damsyik pada tgl 27 Syawal tahun 728 H. Akhmad Taqiyuddin Abu Abbas bin Syihabuddin sebagai nama lengkapnya, ia lahir di Daerah Heran sebuah desa kecil di Palestina pada tanggal 10 Robiul awal Tahun 661 H. Daerah Heran ini terkenal daerah “Kristen” Shabi’in, setelah umur 7 th ia pindah ke Damsyik Syiria, karena daerahnya diserang oleh pasukan Tatari, dan Cuma satu dua kali berkunjung ke Mesir. Maka tidak heran kalau fatwanya menyerupai Tuhan” Yesus “ Dan banyak Ulamak yang mengarang kitab untuk menangkal faham sesat Ibnu Taimiyah, seperti, Ibnu Hajar al-Haitami, dalam kitab : “ Assawa’iqul Muhriqo firroddi alaz zindiqoh ( Petir yang membakar untuk menolak kaum zinndiq ). Dan dalam buku yang bernama “ IbnuTaimiyah “ Muhammad Abdu Zahroh, pada pagina 269 dinuqilkan perkataan Ibnu Timiyah dalam  kitab, “ Hamawiyatul Kubro “ pada pagina 419, 420 dan 421 diantaranya berkata : ” TIADA SATU HURUPPUN DARI QUR’AN DAN HADIST YANG MELARANG KITA MENUNJUK TUHAN KE ATAS LANGIT DENGAN JARI “.

Melihat gelagatnya memang Ibnu Taimiyah ini, termasuk kaum mujassimah, dan musabbihah yang menyerupakan Tuhan dengan manusia, pergi ziarah kemakam Rosululloh adalah maksiat,  padahal sudah 600 tahun umat islam diseluruh dunia sudah berbondong-bondong untuh ziarah kemakam Rosulillah saw. maka dalam kitab “ Rahlah Ibnu Bathuthoh “ dijelaskan, Ibnu Taimiyah adalah seorang alim, tetapi “ Fi aqlihi syaiun “ ( Otaknya sedikit goncang ).
                                                                                                                                                        
الرحمن على العرش استوى .     .                                         

( Menurut Ibnu Taimiyah ):  Ar Rohman duduk bersela diatas “arasy” ) ( Thoha 5 ).padahal ayat ini sama dengan surat ( Al-A’rof 54 ) ( Toha, 5 ). ( yunus, 3 ). ( Ar Ra’d 2, ). dan banyak lagi. Ulamak –Ulamak ahlus sunnah mentakwilkan perkataan “ Istawa “ itu dengan “ istaula “ ya’ni menguasai atau memerintah  ( Ulamak salaf dan kholaf ) sepakat mengenai penafsiran ini. Cuma caranya agak berbeda, jadi bohong besar kalau faham wahabi berfaham salaf, tidak sesuai dengan kenyataan. Contoh Ulamak salaf :

الاستواءمعلوم , والكيفية مجهول, والسؤال عنه بدعة .                               

“ Perkataan Istawa sudah diketahui oleh setiap orang artinya, tetapi caranya tidak diketahui, bertanya-tanya dalam so’al ini adalah bid’ah “.
Demikianlah jawaban seorang ulamak salaf yaitu Imam Malik bin Anas pembangun madzhab Maliki. Jelas kalau mengaku-ngaku ikut ulamak salaf hanya berlindung dari kesesatannya. Apakah tidak berfikir sebagai pengikut wahabi, bagaimana dengan ayat ini :
 
وهو معكم اينما كنتم                                                       

“ Dan Ia ( Tuhan ) bersama kamu dimana juga kamu berada “ ( Al-Hadid : 4 ).
“ COBAK BAYANGKAN TUHAN YANG SATU BERSELA DIATAS LANGIT TUHAN YANG LAIN SELALU MENGURUSI UMMAT YANG ADA DI DUNIA INI, ( DIBUMI ), KARENA MENURUT AYAT INI TUHAN SELALU BERSAMA UMATNYA DUS TIDAK PERNAH MENINGGALKAN UMATNYA YANG DI BUMI INI, LALU ADA BERAPAKAH TUHAN KAMU  WAHAI WAHABI ??????. JAWABLAH SENDIRI. Belum lagi yang dijelaskan dalam hadist berikut ini :

عن ابي هريرة ر ض . ان رسو لا الله صلعم .قال : ينزل الله عز وجل كل ليلة الى سماء الدنيا حتى يبقى ثلث اليل الاخر فيقول من يدعوني فا ستجيب له ومن يسأ لني فا عطيه ومن يستغفر ني فا ستغفر له . صحيح رواه البيهقي .     

“ Dari Abu Huroiroh ra. Beliau berkata :  Bahwasanya Rosululloh saw. berkata : Tuhan Alloh turun tiap-tiap malam kelangiat dunia ketika tinggal sepertiga malam penghabisan, maka ia berkata : siapa-siapa yang mendo’a kepada saya akan saya perkenankan, siapa yang meminta akan saya beri, siapa yang minta ampun kepada saya akan saya ampuni “.( Hadist shoheh diriwayatkan oleh Baihaqi ) Hadist ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhori, ( Shoheh Bukhori 4 hal 72 ). Ktika menerangkan hadist ini, Ibnu Taimiyah  menjelsaskan, “ TURUNNYA SEPERTI SAYA DARI MIMBAR “. Lengkap sudah, 1- ada Tuhan yang khusus bersila diatas arasy, 2- ada Tuhan yang selalu menjaga umatnya dan tidak pernah ditinggalkan di muka bumu ini menjaga umatnya, 3- ada Tuhan yang setiap malam lalu lalang  turun ke langit dunia, itukah ulamak yang kau junjung tinggi, yang katanya segudang ilmunya, “ GUGUR SUDAH YANG NAMANYA PEMURNIAN TAUHID “ hanya manipulasi belaka. Sedangkan menurut ulamak sunni termasuk madzhab yang empat kalimat itu harus “ditakwil”, walaupun menurut ulamak wahabi “ “Takwil” tersebut adalah perbuatan bid’ah dan sesat “ takwil tersebut bahwa “ Pintu rahmat Tuhan lebih terbuka pada sepertiga malam terkhir menurut waktu setempat “ inilah menurut ‘Ahlus sunnah waljemaah “.

BEGITU JUGA MENURUT USTAIMIN
    
ان كان يلزم من رؤية الله تعا لى أن يكون جسما فليكن ذالك                             

“ jika melihat Alloh memastikan Dia berupa jasad, maka jadilah itu . ( Syarah Al-aqidah al-Wasithiyah, hal 389 ). Kadang disisi yang lain berbicara :

لايجوز أن نثبت الله لسان ولا نفيه عنه لأنه لاعلم لنا بذالك                             

“ Tidak boleh kita memastikan Alloh punya lidah ataupun menafikannya, karena kita tidak
mengetahui hal Itu.”( al-Liqo asy-Syahri, Dar al-Wathan, Riyadh, Saudi Arabia, juz 3 hal 47 ).   “ Bayangkan katanya ulamak mulutnya asal bicara “ menuduh Alloh se’enak nafsunya saja. “ ITUKAH YANG KAU BANGGAKAN SEBAGAI PEMURNIAN TAUHID, TERNYATA NENEK MOYANGNYA KUFUR DAN MURTAD “.

Dan buku-buku karangan ulamak wahabi, tasyim dan tasybih, “ Alloh disamakan dengan manusia “ rata-rata bersumber dari karangan Ibnu Taimiyah, Ibnu-Al-qoyyim al-Jauzi, adz-Dahabi, Abdulloh ibnu Akhmad abnu Hambal, Ustman ad-Darimi, Ibnu Qudamah, ( yang mengecam tentang “ takwil “ seperti dalam kitab As-Sunnah, dan masih banyak lagi, diantara fatwanya ketika ditanya tentang Tuhan,

كيف كلم الله عزوجل موسى عليه السلام ؟  : مشا فهة . وكلم الله مو سى تكليما من فيه .         

“ Bagaimana Alloh berbicara kepada Musa as. ?  Dia menjawab : “ DENGAN LIDAHNYA “ ( Abdulloh ibnu Imam Akhmad : as-Sunnah, op,cit, halaman,286 ) Setelah ditanya lagi :

وكلم الله موسى تكليما من فيه -  يعني من فمه ونا وله التوراة من يده الى يده .                

“ Dan Alloh bercakap-cakap kepada Musa “ DENGAN MULUTNYA “  dan Dia memberikan kitab Taurot “ DARI TANGANNYA KEPADA TANGANNYA. “ ( Thobaqot al-Hanabilah,jilid 1 cetakan Dar al-kutub al-Ilmiyah , Bairut,Lebanon hal 32-33. ). Setelah ditanya lagi tentang alloh saw. :

فتجلى لهم تبا رك وتعالى حتى يضحك .......حتى تبدو لهواته وأضراس.  وقو له  " حتى تبدو لهواته " جاء فى رواية عبد الله بن زيدالمقرئ .                                                   

“Alloh swt. menampakkan diri-Nya kepada mereka sampai “DIA TERTAWA“ .......sampai kelihatan “ ANAK LIDAHNYA “ ada dalam riwayat Abdulloh ibnu Zaid al-Muqri. “ ( Naqh Ustman  ibnu Said ad-Darimi anwar as-Salaf Riyadh, Saudi Arabia halaman 483. ). Bayangkan Alloh dianggap terbahak-bahak sampai kelihatan “ anak lidahnya “ “ sungguh sesat wahabi ini,” Tidak berhenti disitu, mari kita lihat dalam buku "AQIDAH al-IMAM FI KHOLQ ADAM ALA SURAH ar-ROHMAN  ( Aqidah ahli iman tentang penciptaan Adam seperti rupa Allah) Buku ini diterbitkan oleh Dar al-Liwa, Riyadh, Saudi Arabia, “ BAHKAN ULAMA' SENIOR MUFTI SAUDI ABDUL AZIZ BIN BAZ  SANGAT MEMUJI BUKU TERSEBUT“. Heran Islam ala Wahabi ini, tapi pengikutnya menjadi taqlid buta yang katanya ahli fikir, semoga ada setitik hidayah dari Allah swt, bukankah Allah swt. telah berfirman :

ليس كمثله شيئ  .  ولم يكن له كفوا أحد .                                       

“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun dari makhluq-Nya ( QS. Asy-Syuaraa’ 42/ 11 ).
“Dan (Allah) tidak serupa dengan siapa (dan apa) pun. (QS. Al-Ikhlas 112/4).  Aneh ulama' macam ini, lebih percaya kepada Ibnu Taimiyah yang membagi tauhid menjadi tiga padahal tidak pernah dikerjakan ulama' Salafus Sholeh, akan tetapi malah lebih percaya yang mengkafirkan kepada madzhab yang empat, yaitu ulama' Wahabi diantaranya : 

تقليد المذهب من الشرك .                                                
“Mengikuti madzhab-madzhab adalah syirik" (Bacalah buku Min Fadhaih Kitab at-Tauhid li Muhammad ibn Abd al-Wahhab karya Syyid Hasan ibn Ali as-Seqqaf al-Alwi al-Hasyimi. (Ahlus sunnah adalah orang-orang sesat menurut Wahabi) hal 24 terbitan Dar Imam An-Nawawi, Amman, Yordania. Tidak berhenti musyrik sampai di situ menurut wahabi :

من لم يكفر المشركين , أو شك فى كفرهم , او صحح مذهبهم كفر.                          

“Barangsiapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik – yakni umat islam yang bertawassul dengan Nabi saw. dan merayakan Isro’ Mi’roj, tahlil, peringatan Maulud Nabi, atau ragu untuk mengkafirkan mereka, atau membenarkan madzhab mereka, maka dia telah kafir ( Muhammad ibn Abdul Wahhab dkk: Ad-Durar as-Saniyya, op.cit. jilid 1 hal 234. )

Lengkap sudah, mulai dari sang Khaliq, Allah swt. dianggap manusia, tertawa terbahak-bahak, sampai terlihat anak lidahnya, Muhammad sebagai sebutan tarisy ( tukang penyampai berita, dianggap mati tak tersisa sedikitpun, bahkan lebih manfaat dari tongkatku untuk membunuh ular, sahabat yang dianggap sesat (bid’ah) tabiit-taabiin sampai madzhab yang 4 yang dianggap syirik, dan kita semua amalan yang dianggap syirik menurut versi Wahabi, syirik semua, walaupun sudah ada dalam Al-Qur’an Hadist, bahkan al-Qur’an pun dianggap sebagai koran biasa, walaupun ditaruh di bawah, terinjak sekalipun, karena yang asli ada di Lauh Mahfudh katanya. “ dan sekarang ini adalah foto kopinya, Sungguh telah berhasil Nasrani dan Yahudi untuk menghancurkan Islam dari dalam “melalui tangan Salafi Wahabi “.

اهدناالصراط المستقيم . صراط الذين انعمت عليهم غيرالمغضوب عليهم ولاالضالين.